Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 08 Juni 2011

PEMAHAMAN DIRI


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.           Pemahaman Diri Siswa

1.             Pengertian Pemahaman Diri
Pemahaman diri banyak diperbincangkan oleh banyak orang dan setiap orang mengartikan pemahaman diri menurut cara pandang mereka masing-masing.
Maslow menyebutnya personal meaning yang dimuat Kira pada yahoo answer menggambarkan bahwa meaning dialami dari aktualisasi diri, individu yang termotivasi untuk mengetahui alasan atau maksud dari keberadaan dirinya. Ia juga mengatakan bahwa setiap individu memiliki dorongan untuk memenuhi kebutuhannya dari yang sederhana sampai kebutuhan yang kompleks. Aktualisasi diri adalah pencapaian suatu potensi terbesar dalam diri, menjadi yang terbaik yang dapat dilakukannya, dan mencapai tujuan hidup dirinya.
Selalin itu Baumeister mengatakan bahwa meaning mengandung beberapa bagian kepercayaan yang saling berhubungan antara benda, kejadian dan hubungan. Baumeister menekankan bahwa meaning pada akhirnya memberikan arahan, intensi pada setiap individu, di mana perilaku menjadi memiliki tujuan , daripada hanya berperilaku berdasarkan insting atau impuls.

Menurut Reker yang di tulis oleh Maria Antoinete pada blog http://rumahbelajarpsikologi.com, menjelaskan bahwa orang yang memahami diri adalah mereka yang memiliki tujuan hidup, memiliki arah, rasa memiliki kewajiban dan alasan untuk ada (eksis), identitas diri yang jelas dan kesadaran sosial yang tinggi.
Pemahaman diri adalah suatu cara untuk memahami, menaksir karakteristik, potensi dan atau masalah (gangguan) yang ada pada individu atau sekelompok individu (buku ajar-pemahaman individu teknik.non.html).
Menurut Santrock, Pemahaman diri (self – Understanding) adalah gambaran kognitif remaja mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja (http://tizarrahmawan.wordpress.com)
Menurut Hartono (2010: 209) pemahaman diri siswa SMA adalah pengenalan secara mendalam atas potensi-potensi dirinya yang mencakup ranah minat, abilitas, kepribadian, nilai dan sikap yang mana pengenalan siswa atas pribadinya sendiri mencakup dua sisi yaitu pengenalan siswa atas keunggulannya dan pengenalan siswa atas kekurangannya sendiri. Kekuatan merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki siswa baik yang bersifat potensial maupun aktual. Kekuatan siswa menggambarkan keunggulan, kehebatan pribadi siswa, sedang kekurangan siswa adalah sejumlah keterbatasan yang dimiliki siswa. Kekurangan siswa menggambarkan ketidak mampuan siswa yang menjadi hambatan siswa dalam meraih cita-cita.
     Dalam modul layanan informasi tentang pemahaman diri yang disusun oleh tim konselor RSMABI Jawa Tengah pada workshop penyusunan modul RSMABI Jawa Tengah tanggal 6 s/d 9 Nopember 2009 menggambarkan bahwa pengelan terhadap diri sendiri merupakan kemampuan seseorang dalam mengeksplorasi potensi diri sendiri yang terdiri dari potensi fisik dan potensi psikis. Potensi psikis yaitu kelebihan pada anggota badan, panca indera beserta kekuatan/ kualitasnya, sedangkan potensi psikis yaitu seluruh kemampuaqn dan kekuatan  yang dimiliki seseorang yang berkaitan dengan  kemampuan kejiwaan antara lain : intelektual(IQ), bakat, minat, dan sifat, ciri-ciri kepribadian.
Sumber lain, dalam materi kuliah perencanaaan karier yang susun di Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi menyatakan tujuan materi pemahaman diri adalah membantu siswa mengeksplorasi kemampuan/ bakat, miatnya, nilai-nilai kepribadian dan kemampuan emosioalnya dalam rangka memahami diri dalam kaitannya dengan memasuki dunia kerja.
Dari uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa pemahaman diri adalah suatu situasi yang dialami individu dimana seseorang mengenal tentang potensinya baik potensi fisik maupun potensi psikisya sehingga individu memahami arah dan tujuan hidupnya atau cita-cita. Potensi fisik yaitu sejumlah kemampuan yang ada pada anggota badan dan panca indra individu sedangkan potensi psikis individu mencakup minat, abilitas, kepribadian, nilai dan sikap. Pemahaman yang dimaksudkan disini tidak hanya terbatas pada pengenalan siswa atas keunggulannya saja tetapi juga mencakup pengelan siswa atas kekurangan yang ada dalam diri.
2.         Tujuan Pemahaman Diri
Pemahaman diri merupakan aspek penting bagi siswa SMA. Siswa yang memahamai diri lebih memiliki peluang yang besar dalam meraih cita-cita dari pada siswa yang belum mengenal dengan baik akan diri mereka sendiri, karena mereka yang memahami diri telah memahi kemampun, minat, kepribadian, dan nilai termasuk kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri mereka sehingga mereka memiliki arah dan tujuan hidup yang realistis dimana mereka memilliki cita-cita yang sesuai dengan potensi diri.
Menurut Muhamat Farid (http://tizarrahmawan.wordpress.com) ketika seseorang mengetahui kondisi dan gambaran tentang dirinya maka dia akan dapat menjalani hidupnya dengan nyaman dan juga memiliki rasa percaya diri yang kuat karena sudah memiliki pandangan diri yang jelas.
Dalam materi kuliah yang disusun di Universitas Negeri Malang dengan materi pemahaman diri ditujukan agar siswa mampu mempersiapkan diri dalam memasuki dunia kerja, sehingga dapat mencapai kesuksesan dalam karier.

Pemahaman diri atau disebut knowing yourself oleh Levinson, Ohler, Caswell dan Kiewra merupakan aspek penting dalam pengambilan keputusan ( dalam Hartono, 2010: 61) selanjutnya kemampuan siswa dalam pengambilan keputusan karier merupakan wujud nyata dari kematangan perkembangan karier siswa. Sedangkan kematanngan karier menurut Super ( dalam Hartono, 2010: 63) memilki enam dimensi, yaitu; (1)  dimensi membuat pilihan karier, (2) dimensi kompetensi khusus tentang mencari informasi karier dan keterampilan-keterampilan membuat perencanaan karier, (3) dimensi konsistensi pilihan-pilihan, (4) dimensi pengenbangan konsep diri, (5) dimensi kebebasan membuaat keputusan karier, dan (6) dimensi konsistensi membuat pilihan yang realistis berdasarkan tujuan pribadi.
Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa tujuan pemahaman diri bagi siswa adalah:
a.       Mampu mengeksplorasi potensi diri mereka yang mencakup: minat, abilitas, dan cita-cita sehingga individu dapat merencanakan karier yang sesuai dengan potensi diri.
b.      Siswa bisa mempersiapkan diri dengan baik dalam memasuki dunia kerja. Dengan persiapan yang matang individu dapat mencapai kesuksesan dalam berkarier.
c.       Siswa mencapai kematangan dalam perkembangan karier
d.      Siswa mampu mengambil keputusan karier secara mandiri

3.             Ciri-ciri Siswa yang Memahami Dirinya
Siswa SMA merupakan usia dimana seseorang mencapai kematangan kariernya. Kematangan karier bagi siswa terbukti bila mereka mampu mengambil keputusan karier secara mandiri, dimana kemandirian itu tidak pernah terlepas dari pengaruh pemahaman diri siswa.
            Menurut Bastaman (dalamhttp://rumahbelajarpsikologi.com) menjelaskan dalam diri seseorang yang memahami diri terjadi meningkatnya kesadaran atas buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan kearah kondisi yang lebih baik.
Almond (dalam http://rumahbelajarpsikologi.com) mereka yang memahami diri yaitu; (1). Orang yang percaya bahwa hidupnya bermakna , secara positif pasti meyakini konsep-konsep tertentu, seperti humanistik, religiusitas, atau idiosyncratic yang berhubungan dengan makna kehidupan, (2). Konsep meaning yang mereka yakini, memunculkan kekonsistensian mereka untuk mencapai arah dan tujuan hidup mereka, (3). Orang yang percaya bahwa hidup mereka bermakna , entah hidup mereka sudah bermakna atau mereka yang masih berusaha mencapai tujuan hidupnya, (4). Dalam proses mencapai tujuan hidup yang mereka buat, dalam diri seseorang , akan muncul perasaan signifikan pada diri mereka sendiri dan rasa bangga terhadap kehidupan mereka.
Muhamat Farid, dalam tesisnya yang dimuat pada blog http://eprints.uny.ac.id menjelaskan bahwa ketika seseorang mengetahui kondisi dan gambaran tentang dirinya maka dia akan dapat menjalani hidupnya dengan nyaman dan juga memiliki rasa percaya diri yang kuat karena sudah memiliki pandangan diri yang jelas.
      Dalam sumber yang sama dijelaskan juga bahwa percaya diri terkait dengan (1) self-concept yaitu bagaiman Anda menyimpulkan diri anda secara keseluruhan, bagaimana Anda melihat potret diri Anda secara keseluruhan, bagaimana Anda mengkonsepsikan diri anda secara keseluruhan, (2). Self-esteem: sejauh mana Anda punya perasaan positif terhadap diri Anda, sejauhmana Anda punya sesuatu yang Anda rasakan bernilai atau berharga dari diri Anda, sejauh mana Anda meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat atau berharga di dalam diri Anda, (3). Self- efficacy: sejauh mana Anda punya keyakinan atas kapasitas yang Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed). Ini yang disebut dengan general Self-efficacy atau sejauhmana Anda meyakini kapasitas anda di bidang anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang disebut dengan specific self-efficacy, (4). Self-confidence; sejauhmana Anda punya keyakinan terhadap penilaian Anda atas kemampuan Anda dan sejauh mana Anda bisa merasakan adanya “kepantasan” untuk berhasil. Self confidence itu adalah kombinasi dari self esteem dan self-efficacy.
Rahmat Arif Gunawan menjelaskan dalam blognya http://www.primagamasunterjaya.com bahwa sebuah perjuangan besar yang harus dilalui seseorang dalam kehidupan adalah memahami diri, dengan memahami seseorang akan mampu mencapi kesuksesan. Menurutnya pemahaman diri bias dicapai dengan jalan berfikir positif dan memiliki kebiasaan yang efektif.
Dari uraian-uraian diatas penulis dapat menyimpulkan siswa yang memahami diri memiliki ciri-ciri sebagai berikut;
a.   Percaya diri
Dalam kamus istilah Bimbingan dan konseling yang ditulis Thantaway (http://belajarpsikologi.com) percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan.
Menurut Hakim (http://eprints.uny.ac.id) rasa percaya diri yaitu suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan diri akan optimis di dalam melakukan semua aktivitasnya, dan mempunyai tujuan yang realistik, artinya individu tersebut akan membuat tujuan hidup yang mampu untuk dilakukan, sehingga apa yang direncanakan akan dilakukan dengan keyakinan akan berhasil atau akan mencapai tujuan yang telah ditetapkannya.
Hakim juga mengemukakan cirri individu yang percaya diri sebagai berikut:
1)      Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu;
2)      Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai;
3)      Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi.
4)      Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi;
5)      Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilannya;
6)      Memiliki kecerdasan yang cukup;
7)      Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup;
8)      Memiliki keahlian atau keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya ketrampilan berbahasa asing;
9)      Memiliki kemampuan bersosialisasi;
10)  Memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik;
11)  Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat dan tahan di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup;
12)  Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap tegar, sabar, dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup.
b.   Befikir positif, dengan cirri sebagai berikut:
1)            melihat masalah sebagai tantangan
2)            menikmati hidupnya
3)            pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide
4)            mengenyahkan pikiran negatif segeraa setelah melintas di pikiran
5)            mensyukuri apa yang dimilikinya, bukan berkeluh kesah.
6)            tidak mendengarkan gosip dan isu yang tidak tentu
7)            Tidak banyak “excuse”, langsung action.
8)            Menggunakan bahasa positif, optimis.
9)            Menggunakan bahasa tubuh yang positif
10)         peduli pada citra diri sendiri           
c.    Memiliki kebiasaan yang efektif, dengan cirri sebagai berikut:
1)               Menjadi proaktif
2)               Merujuk pada tujuan akhir
3)               Mendahulukan yang utama
4)               Berpikir dan bertindak menang-menang
5)               Berusaha mengerti terlebih dahulu baru dimengerti
6)               Mewujudkan sinergi
7)               Melakukan evaluasi  
4.             Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Diri Siswa
Pemahaman diri (minat, abilitas, kepribadian, nilai-nilai dan sikap, kelebihan dan kekurangan) di pengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang turut mempengaruhi pemahaman diri ditentukan oleh diri terbuka dan tertutup. Kepribadian yang terbuka berkonstribusi positif terhadap pemahaman diri, sedangkan kepribadian yang tertutup adalah faktor penghambat dalam pemahaman diri. Faktor eksternal (lingkungan) yang mempengaruhi pemahaman diri antara lain, lingkungan keluarga, teman sebaya, dan sekolah.
Menurut Hurlock (http://eprints.uny.ac.id) masa remaja dikatakan sebagai masa transisi karena belum mempunyai pegangan, sementara kepribadianya masih menglami suatu perkembangan, remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisiknya. Remaja masih labil dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Remaja sebagai bagian dari generasi penerus yang menjadi tonggak sebagai individu yang bermakna pada hari kemudian diharapkan juga memiliki pemahaman tentang diri yang benar, hal tersebut sangat diperlukan bagi setiap orang dalam menjalani kehidupannya, sehingga di peroleh suatu gambaran yang jelas tentang dirinya dan supaya sremaja bias menjalankan apa yang sudah didapatkannya.
Pada kesempatan ini penulis lebih menekan pada pengaruh lingkungan sekolah terhadap pemahaman diri siswa terletak pada peran kepala sekolah, sataf administrasi, guru mata pelajaran, dan peran konselor sekolah dalam melaksanakan program bimbingan dan konseling. Program bimbingan yang dilaksanakan oleh konselor sekolah mencakup empat bidang antara lain; bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan karier, dan bimbingan belajar. Untuk mewujudkan tujuan bimbingan di sekolah, konselor perlu melaksanakan berbagai kegiatan layanan bantuan dimana salah satunya adalah layanan informasi.
Pemahaman diri siswa SMA di pengaruhi oleh pelaksanaan layanan informasi dalam bidang bimbingan karier, yang mana materi dalam pemberian informasi kepada siswa mencakup, potensi diri (minat, abilitas, nilai-nilai dan sikap) serta kekuatan atau kelebihan dan kekurangan/ kelemahan diri.

B.                Bimbingan Karier

1.         Pengerttian Bimbingan Karier di SMA
Menurut Munandir (dalam Hartono, 2010: 24) bimbingan karier adalah proses membantu siswa dalam hal memahami dirinya, memahami lingkungan khususnya memahami lingkungan dunia kerja, menentukan pilihan kerja, dan akhirnya membantunya dalam mewujudkan keputusan yang diambilnya.
Menurut Hartono, (2010: 24) bimbingan karier adalah proses bantuan yang diberikan oleh konselor kepada siswa dalam bentuk berbagai aktivitas bimbingan kelompok atau individual, agar para siswa mampu mencapai pemahaman diri, pemahaman karier, dan mampu memperoleh kemandirian dalam pengambilan keputusan karier, dapat meraih dan mempertahankan kariernya dalam kehidupan di masyarakat.
Dari uraian diatas penulis menyimpulkan bimbingan karier adalah suatu proses bantuan yang diberikan oleh konselor kepada siswa dalam bentuk bimbingan kelompok atau individu agar siswa dapat memahami dirinya, memahami karier, mandiri dalam merencanakan dan menentukan karier hingga dapat meraih karier dan mempertahankan kariernya dalam kehidupan di masyarakat.
2.         Tujuan Bimbingan Karier di SMA
Pelaksanaan bimbingan karier di SMA bertujuan agar siswa dapat memahami dirinya, memahami kariernya, dan mandiri dalam merencanakan karier serta mandiri  menentukan pilihan kariernya.
Menurut Hartono, (2010: 26) tujuan bimbingan karier di SMA sebagi berikut: (1) siswa dapat memahami dirinya dalam hal; minat, abilitaas, kepribadian, nilai-nilai dan sikap, serta kelebihan dan kekurangan-kekurangannya, (2) siswa dapat memahami dunia kerja seperti berbagai jenis karier dan peluang untuk mencapainya, (3) siswa dapat mempertemukan potensi diri dan kesempatan-kesempatan alternatif pilihan karier yang sesuai dengan potensi dirinya, (4) siswa dapat memperoleh kemandirian dalam membuat keputusan karier yang sesuai dengan potensi dirinya dan mampu mengikuti pendidikan karier dengan baik, dan (5) siswa dapat mengembangkan sikap positif terhadap pilihan kariernya, meraih dan mempertahan kariernya dalam kehidupan masyarakat mendatang.
Peters dan Shetzer (http://konselingindonesia.com, diakses tanggal, 15 Mei 2010, Pkl. 21: 40 WIB), mengemukakan bahwa tujuan bimbingan karir adalah membantu siswa dengan cara yang sistematis dan terlibat dalam perkembangan karir. Guru pembimbing hendaknya dapat membantu siswa merencanakan karirnya sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat yang dimilikinya.
 Surya (1988:14) menyatakan bahwa tujuan bimbingan karir adalah membantu individu memperoleh kompetensi yang diperlukan agar dapat menentukan perjalanan hidupnya dan mengembangkan karir kearah yang dipilihnya secara optimal.
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan, tujuan bimbingan karier sebagai berikut: (1) siswa dapat memahami dirinya sendiri yang mencakup; minat, abilitas, nilai-nilai dan sikap, serta kelebihan dan kekurangan diri sendiri, (2) siswa dapat memahami tentang dunia kerja, (3) siswa dapat mencapai kematangan karier yang meliputi: perencanaan karier, pemilihan karier secara mandiri, dan dapat mengembangkan karier kearah yang lebih optimal.

3.         Fungsi Bimbingan Karier
Menurut James C. Hansen, dan kawan-kawan, ada empat fungsi utama bimbingan dalam memberikan bantuan layanan bimbingan yang berkaitan dengan pilihan pekerjaan, jabatan atau karier yaitu; (1) fungsi yang berkenaan dengan masalah penempatan. Di sini petugas bimbingan terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, dan keterangan adanya lowongan pekerjaan, serta pembahasan tentang pengenbangan pekerjaan atau penciptaan pekerjaan baru. Semua ini bermanfaat sebagai sumber informasi bagi klien yang memerlukannya. (2) berkenaan dengan menyesuaikan diri terhadap pekerjaan yang sedang dijabat. (3) fungsi yang berkenan dengan kepuasan kerja dalam menjabat suatu pekerjaan. Di sini sebelum seseorang memasuki suatu pekerjaan tertentu terlebih dahulu dibahas mengenai segi positif dan segi negatif dari pekerjaan kepada klien. Dengan pembahasan ini akan dapat dipertemukan antara unsur subyektif dan realistik, sehingga klien dapat memahami faktor-faktor kepuasan kerja yang dijabat. (4) fungsi yang berkenaan dengan masalah pergantian pekerjaan. Di sini petugas bimbingan bertugas menangani klien-klien yang melepaskan pekerjaan atau jabatan, dan kemudian mencari pekerjaan atau jabatan sebagai penggantinya, ( dikutip dari Dewa Ketut Sukardi, 1984: 252)
Dari uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa bimbingan karier memiliki fungsi sebagai berikut: (1) sebagai sumber informasi karier bagi siswa, (2) membekali siswa agar mampu menyesuiakan diri dengan pilihan karier, (3) memberikan informasi kepada siswa tentang segi positif dan negatif dari suatu karier, sehingga siswa mampu mentukan karier yang realistik, (4) membantu siswa dalam menyelesaikan masalah masalah-masalah yang berkaitan dengan karier.
4.         Prinsip-prinsip Bimbingan Karier di SMA
              Menurut Hartono, (2010: 27), prinsip-prinsip bimbingan karier sebagaiberikut:
1)        Prinsip-primsip yang berkenaan dengan sasaran layanan, yang mencakup: (1) bimbingan karier melayani semua siswa tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, bangsa, agama, dan status sosial ekonomi, (2) bimbingan karier berurusan dengan sikap dan tingkah laku siswa yang terbentuk dari aspek kepribadian yang kompleks dan unik, oleh karena itu bimbingan karier perlu menjangkau keunikan dan kommpleksitas pribadi siswa, (3) untuk meningkatkan pelayanan bimbingan karier sesuai dengan kebutuhan siswa, perlu dipahamai keunikan siswa dengan berbagai kekuatan, kelemhan dan permasalahan kariernya, (4) setiap aspek pola kepribadian yang kompleks seserorang siswa, mengandung faktor-faktor yang secara potensial mengarah kepada sikap dan pola-pola tingkah laku yang tidak seimbang. Oleh karena itu pelayanan bimbingan karier harus mempertimbangkan berbagai aspek kepribadian itu, dan (5) meskipun beberapa individu memilki persamaan dalam beberapa hal, perbedaan individu harus dipahami dalam rangka upaya meamberikan bimbingan karier kepada mereka.
2)        Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami siswa, meliputi: (1) bimbingan karier berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik siswa dalam kaitannya dengan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh lingkungan pekerjaan terhadap kondisi mental dan fisik siswa, dan (2) kesenjangan sosial, ekonomi, dan budaya merupakan faktor timbulnya masalah siswa yang semuanya menjadi perhatian bimbingan karier.
3)        Prinsi-prinsip yang berkenaan dengan program layanan, yang mencakup: (1) bimbingan karier merupakan bagian integral dari pelayanan bimbingan dan konseling, oleh karena itu program bimbingan karier harus selaras dan dipadukan dengan programnbimbingan dan konseling sekolah (2) program bimbingan karier harus fleksibel, disesuaikan dengan kebutuhan siswa, masyarakat, dan kondisi sekolah, (3) program bimbingan karier di sekolah disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan yang terendah sampai yang tertinggi, dan (4) pelaksanaan bimbingan karier perlu dievaluasi (assesment) secara teratur dan terarah.
4)        Pelaksanaan yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan, yang meliputi: (1) bimbingan karier harus diarahkan untuk membantu siswa yang akhirnya mampu membimbing dirinya sendiri (self help) dalam menghadapi masalah karier, (2) dalam proses bimbingan karier keputusan yang diambil dan dilaksanakan siswa hendaknya ataas keinginan siswa sendiri, bukan karena kemauan atau desakan dari konselor atau pihak lain, (3) permasalahan karier siswa harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, (4) kerja sama knselor, guru-guru lain, dan orang tua sangat menentukan hasil bimbingan karier, dan (5) pengembangan program bimbingan karier dilakukan melalui pemanfaatan hasil evaluasi (assesment) terhadap siswa yang mendapatkan bimbingan karier.

5.         Layanan Informasi dalam Bimbingan Karier di SMA
1)   Pengertian Layanan Informasi Bimbingan Karier
Layanan informasi di SMA yang dilaksanakan oleh konselor sekolah dapat dilaksanakan melalui bimbingan kelompok dan individu. Dengan layanan informasi akan secara langsung bisa membantu siswa dalam memahami dirinya tentang potensi yang dimilikinya, minat, nilai-nilai dan sikap, kekuatan dan kelemahaman yang ada pada diri mereka sendiri.
Menurut Dewa Ketut (1984: 238). Pemberian informasi karier kepada para siswa di sekolah hendaknya mengacu kepada kebutuhan-kebutuhan individu siswa, sekolah, dan dunia kerja atau lapangan kerja yang tersedia, serta dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan lain yang berhubungan dengan perkembangan pribadi, pendidikan, dan sosial dari individu siswa.
Hartono, (2010: 32)  menyatakan bahwa layanan inforamsi dapat dilaksanakan oleh konselor sekolah kepada seluruh konseli yang berlangsung di dalam kelas melalui komunikasi secara langsung, yang bertujuan agar konseli dapat memperoleh pemahaman tentang diri yang mencakup: minat, kemampuan, keterampilan, kepribadian, sikap dan nilai-nilai) serta kondisi dunia kerja yang mencakup: perkembangan dunia kerja, iklim kehidupan dunia kerja, dan cara melamar pekerjaan.
2)   Materi Layanan Informasi dalam Bimbingan Karier
Dalam penelitian ini penulis membatasi materi layanan informasi dalam bimbingan karier yang diberikan kepada siswa yakni: (a) layanan informasi bimbingan karier dengan topik mengenal minat;  (b) layanan informasi bimbingan karier dengan topik memahami abilitas; (c) layanan informasi bimbingan karier dengan topik memahami karakteristik kepribadian; (d) layanan informasi bimbingan karier dengan topik nilai-nilai dan sikap karier siswa.
Minat, merupakan perasaan tertarik dari seseorang terhadap obyek atau kegiatan tertetu. Menurut Hartono (2010:70) minat adalah suatu sikap ketertarikan individu pada suatu obyek, aktivitas, perbuatan yang disertai adanya intensitas: perhatian, perasaan senang, dan keterlibatan perilaku individu pada obyek, aktivitas atau perbuatan tersebut.
Strong (dalam Hartono, 2010: 70) mengungkapakan empat elemen minat yaitu: (1). Cognition (kognisi) merupakan atribut kualitatif minat pertama yang ditandai adanya perhatian atau atensi subyek pada suatu obyek atau aktivitas, (2). Affection (afeksi) merupakan atribut kualitatif minat kedua yang ditandai adanya perasaan senang terhadap suatu kegiatan atau aktivitas tertentu, (3). Conation (konasi) merupakan atribut kualitatif minat ketiga yang perwujudannya dalam bentuk adanya suatu kehendak pada aktivitas atau kegiatan yang diminati, (4). Action (tindakan) merupakan atribut kualitatif minat yang keempat yang ditandai adanya perbuatan/ kegiatan pada bidang yang diminati. 
Hartono (2010: 72), mengungkapkan ragam minat siswa mencakup tiga kelompok yaitu: (1). Minat pada kegiatan intra kurikuler, (2). Minat pada bidang kegiatan ekstra kurikuler, dan (3). Minat pada kegiatan karier. Dengan demikian sesorang dikatakan memiliki minat pada suatu aktivitas jika orang tersebut mampu menunjukkan sikap tertariknya pada suatu aktivitas. Dengan adanya layanan informasi dalam bimbingan karier diharapkan siswa mampu mengenal minat mereka sendiri yang pada akhirnya siswa merasa tertarik untuk mengembangkan minat yang ada dalam diri mereka dan menunjang dalam merencana dan mengembangkan karier mereka.
Abilitas,  menurut Maltby, Gage & Berliner (Hartono, 2010: 79) abilitas merupakan kemampuan individu yang mencakup tiga aspek: Pertama, abilitas sebagai kemampuan untuk memahami obyek abstrak seperti idea-idea, simbol-simbol, hubungan-hubungan, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip, Kedua, abilitas sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah seperti masalah belajar, ekonomi, sosial, budaya dan masalah-masalah lain, Ketiga, abilitas sebagai kemampuan untuk belajar seperti belajar matematika, belajat tentang bahasa, belajar tentang komputer, belajar tentang sejarahm dan lain-lain. 
Hartono (2010:79), abilitas adalah sejauh mana kemampuan atau kecerdasan individu dalam melakukan perbuatan atau aktivitas, perbuatan atau aktivitas tersebut mencakup banyak hal seperti aktivitas untuk memahami sesuatu hal yang bersifat abstrak dan konkrit, aktivitas untuk memecahkan masalah (problem solving), aktivitas belajar, dan aktivitas yang dapat mengahasilkan produk yang berguna bagi masyarakat.
Kepribadian, kepribadian seseorang tergambar dari apa yang dia inginkan, dan apa yang di lakukan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Hartono, (2010: 89) kepribadian adalah (1). Sebagai suatu sistem yang terorganisir dari berbagai sifat-sifat yang unik yang menentukan perwujudan perilaku seseorang, (2). Kepribadian bersifat dinamis artinya dapat mengalami perubahan atas hasil interaksi faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal, dan (3). Kepribadian menggambarkan keunikan seseorang.
Holand menguraikan tipe kepribadian sebagai berikut:
a).      Tipe realistis, orang yang memiliki tipe kepribadian realistis memiliki ciri-ciri: suka hal-hal yang praktis, pemalu, tulus, patuh, berani berterus terang, rajin, materialis, kurang terlibat dengan orang lain, suka pada sesuatu yang sudah pasti, dan suka kegiatan di luar ruangan.
b).      Tipe intelektual, orang yang memilki tipe kepribadian ini memiliki ciri-ciri: selalu ingin tahu, serius, orisinil, berpendirian teguh, selalu disiplin, suka menyelidiki sesuatu, optimis, berfikir yang kompleks, kurang bergaul dan menghargai pendekatan ilmiah.
c).      Tipe artistik, individu yang memiliki tipe kepribadian artistik memilki ciri-ciri: suka santai, seederhana, sulit menyesuaikan diri, perasaan peka, mudah terpengaruh, idialis, imajinatif, mudah emosional, ekspresionis, dan menghargai seni.
d).     Tipe sosisal, individu yang bertipe kepribadian ini memiliki ciri-ciri: mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri, suka menolong, ramah, mudah memahami orang lain, suka bekerja sama, peduli sesama, menghargai perbedaan, mudah membuat keputusan, dan suka membimbing orang lain.
e).      Tipe usaha, orang yang bertipe kepribadian ini memiliki ciri-ciri: percaya diri, irit, rajin, mudah menyesuaikan diri, enerjik/lincah, suka manipulasi, mampu memimpin, ingin berkuasa, dan orang yang berambisius.
f).       Tipe konvensional, individu yang bertipe kepribadian ini memiliki ciri-ciri: patuh, setia, suka hal-hal yang praktis, efisien, berbahasa yang baik, rajin, suka mengabdi, disiplin, tidak suka hal-hal yang imajinatif, dan suka bekerja keras.
Nilai dan Sikap, nilai dan sikap merupakan dua hal yang berbeda namun saling berkaitan. Nilai merupakan keyakinan seseorang menegenai cara bertingkah laku terhadap tujuan akhir dari individu, sedangkan sikap menurut Hartono (2010:97) sikap merupakan kecendrungan merespon atau pernyaataan evaluatif seseorang kepada sesuatu hal. Nilai seseorang memiliki orientasi seperti; orientasi diri, orientasi keluarga, dan orientasi sosial.
Orientasi diri, menganggap sangat penting pertimbangan pribadi menjadi prioritas dalam mengambil keputusan atau tindakan. Individu lebih mengutamakan pandakan pribadi untuk memilih suatu tindakan seperti dalam memilih olah raga, pendidikan, keterampilan, atau pekerjaan yang baik bagi dirinya.
Orientasi keluarga, pertimbangan dalam menentukan suatu tindakan itu baik atau tidak perlu dilakukan atau tidak, lebih menekankan pada kepentingan keluarga. Individu dengan orientasi nilai ini lebih memperioritaskan apakah suatu tindakan akan dilakukan atau tidak lebih mengutamakan apakah tindakan tersebut menguntungkan atau justru dapat merugikan keluarga.
Orientasi sosial, Pertimbangan individu dalam orientasi sosial ini menaruh nilai tertinggi pada pandangan orang lain. Sesuatu akan dilakukan bila dengan tindakan tersebut dapat membantu orang lain dan ia tidak akan melakukan bila mana tindakannya dapat merugikan orang lain.
3)   Metode Layanan Informasi dalam Bimbingan Karier
Layanan informasi dapat diselenggarakan melalui berbagai cara seperti ceramah, tanya jawab, dan diskusi selanjutnya dapat dilengkapi dengan peragaan, selebaran, tayangan foto, film, video, dan peninjauan tempat-tempat atau objek-objek yang di maksud. Uraian mengenai metode pemberian informasi bimbingan karier adalah sebagai berikut:
a)        Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi dan termasuk metode yang paling sederhana. Metode ceramah ini akan bagus jika didukung dengan alat-alat dan media. Penyajian informasi ini dapat dilakukan oleh konselor/ guru pembimbing, kepala sekolah, guru-guru dan dapat juga dengan mendatangkan narasumber.
b)        Diskusi
Metode diskusi yaitu metode informasi untuk bertukar informasi, pendapat-pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud-maksud mendapat pengertian yang lebih jelas dan lebih cermat dengan topik yang dibahas. Di dalam diskusi siswa didorong untuk mendapatkan sebanyak mungkin bahan informasi yang akan disajikan dan guru pembimbing memberikan pengarahan ataupun melengkapi informasiinformasi yang akan dibahas. Diskusi dapat menarik perhatian siswa jika dalam diskusi tersebut menampilkan berbagai contoh dan peragaan.
c)        Karyawisata
Metode karyawisata yaitu metode yang dapat membantu siswa belajar dengan menggunakan berbagai sumber yang ada dalam masyarakat yang dapat menunjang perkembangan mereka, dan juga dapat membantu mengembangkan sikap-sikap terhadap pendidikan, pekerjaan dan berbagai masalah dalam masyarakat.
d)       Buku Panduan
Metode buku panduan yaitu metode yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam mendapatkan banyak informasi yang berguna seperti buku panduan sekolah, pekerjaan, selain itu juga siswa dapat diajak untuk membuat buku karier yang merupakan kumpulan berbagai artikel dan keterangan tentang pekerjaan atau pendidikan dari koran atau media cetak.
e)        Konferensi Karier
Metode konferensi karier yaitu metode yang melibatkan para narasumber baik dari kepala usaha, jawatan atau dinas pendidikan untuk menyajikan tentang berbagai aspek program pendidikan, latihan atau pekerjaan dengan melibatkan siswa sehingga terjadi suatu tanya jawab dan diskusi. Pola yang diikuti dalam konferensi karier yaitu menyisihkan waktu selama satu jam/ lebih di luar hari-hari sekolah setiap semester, menyediakan waktu sehari penuh/ lebih setiap semester untuk mengadakan konferensi karier, dan menyediakan jadual konferensi dengan mengadakan pertemuan sekali setiap minggu, serta mengadakan pekan bimbingan karier selama satu minggu terus menerus.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu metode ceramah, diskusi dan tugas disertai dengan tanya jawab sehingga terjadi suatu komunikasi langsung dua arah. Dengan adanya metode tersebut siswa akan memperoleh kesempatan yaitu berupa pengalaman dan informasi/ pengetahuan/ wawasan tentang dirinya sendiri yakni memahami tentang potensi diri, dan kekuatan dan kelemahan diri sendri.

C.                Hubungan Layanan Informasi dalam Bimbingan Karier Terhadap Pemahaman Diri Siswa.

Layanan informasi bimbingan karier adalah seperangkat kegiatan dalam memberikan informasi karier kepada siswa sehingga dengan informasi-informasi itu siswa dapat memahami dirinya sendiri yaitu pengenalan lebih dalam tentang potensi diri, kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri.
Pelaksanaan layanan informasi secara efektif dengan materi layanan tentang potensi diri yang mencakup minat, abilitas, nilai-nilai dan sikap, serta kelebihan dan kekurangan diri secara signifikan dapat meningkatkan pemahaman diri siswa SMA. Hal ini terbukti seperti pada penelitian yang dilaksanakan oleh Nur Khayati (UNNES) tentang  (Efektivitas Layanan Informasi dalam Bimbingan Karier terhadap Kesiapan Kerja ditinjau dari Aspek Psikologis pada Siswa kelas III, Tahun Pelajaran 2005/ 2006), bahwa Minat, pada pemahaman minat, skor yang dihasilkan dalam pre test adalah 65,6% dengan kriteria sedang, setelah diberikan layanan informasi bimbingan karier menunjukkan adanya peningkatan skor sebesar 78,1% yaitu dengan kriteria tinggi berarti selisih peningkatannya sebesar 12,5%. Nilai, pada pemahaman nilai yang diyakini memperoleh skor yang dihasilkan dalam pre test adalah 59,1% dengan kriteria sedang, setelah diberikan layanan informasi bimbingan karier menunjukkan adanya peningkatan skor sebesar 80,2% yaitu dengan kriteria tinggi berarti selisih peningkatannya sebesar 21,1%, Sikap, pada pengembangan sikap skor yang dihasilkan dalam pre test adalah 61,6% dengan kriteria sedang, setelah diberikan layanan informasi bimbingan karier menunjukkan adanya peningkatan skor sebesar 81,6% yaitu dengan kriteria tinggi berarti selisih peningkatannya sebesar 20,0%.
Selain hal diatas yang membuktikan bahwa layanan informasi bimbingan karier memiliki kaitan yang sangat erat dengan pemahaman diri siswa, Ahmat Sudrajat juga menerangkan bahwa salah satu tujuan khusus bimbingan konseling yang terkait dengan aspek karier adalah memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat, dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan (http://tyanrisdiana.blogspot.com)
Hartono juga membuktikan dalam penelitiannya tentang bimbingan karier berbantuan komputer untuk siswa SMA  yang menerangkan bahwa aspek pemahaman diri siswa mengalami peningkatan setelah diberi layanan bimbingan karier  berbantuan komputer dimana siswa diberikan informasi tentang potensi diri melalui jaringan online.
 Hal-hal diatas merupakan bukti bahwa terdapat hubungan antara bimbingan karier dengan pemahaman diri, dimana pemahaman diri itu bisa diwujudkan melalui layanan informasi dalam bidang bimbingan karier.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar